Mie Ongklok Wonosobo & Es Durian Purbalingga

"Mie Ongklok..."
Well, di post sebelumnya saya udah janji ya mau cerita soal kulineran di Wonosobo. Pernah denger mie ongklok? Mie yang tenar banget di Wonosobo. Karna penasaran kemarin pas main ke Dieng - Wonosobo sengaja disempeti-sempetin mampir di warung makan mie ongklok.

Salah satu mie ongklok yang sepertinya terkenal dan paling banyak di index google adalah Mie Onglok Longkrang. Lokasinya di Jl. Pasukan Ronggolawe No. 14, Wonosobo. Warung makannya sederhana, nggak gede-gede amat sih tapi rame terus.
Jadi... apa itu mie ongklok?? Mie ongklok adalah mie. Yaiyalaaaah masa kerupuk. Oke, serius. Komposisi mie ongklok itu terdiri dari mie kuning kecil pipih, kemudian ada potongan kol, kucai, bawang goreng, taburan kacang yang udah dialusin dan ada ebinya juga. Kuahnya nggak kayak kuah mie pada umumnya, lebih kental kayak ada campuran pati. Rasanya? Manisss, denger cerita manisnya berasal dari gula jawa. Terus mie ongklok itu khasnya disajikan bersama sate sapi yang rasanya manis juga. Buat temen-temen yang suka rasa manis saya rasa kalian cocok dengan kuliner yang satu ini. Harga mie ongklok longkrang satu porsinya Rp 7500, terus buat satenya Rp 8500 / porsinya.
Kalau rasanya manis doang kayaknya kurang maknyus yah? Tenang, di warung Mie Ongklok Longkrang sudah disediakan sambal cabe rawit yang bisa bikin rasa mie ongklok makin endesss. Duh, saya jadi nelen ludah nih pas nulis postingan ini haha. 

"Es Durian Purbalingga.."
Buat kamu yang pecinta es durian, Es Durian Purbalingga Pak Kasdi wajib buat kamu cobain. Lokasinya di depan Kodim 0702 Purbalingga. Asli rasanya enak banget! Duriannya asli dan banyak. Dijamin kalau udah nyobain sekali pasti ketagihan.  
Satu porsi es durian original dihargai Rp 15.000. Ohya varian es di sini ngga cuma es durian loh. Ada es kopyor, es kopyor durian, es campur, es durian + campur, dll. Masing-masing punya harga yang beda, tinggal disesuaikan dengan selera ;)


Quick Escape: Dieng - Wonosobo

Sabtu, 21 Februari 2016

Dua hari sebelumnya saya mendapat kabar via email untuk menghadiri acara Forum IT di salah satu unit perusahaan saya, UP Mrica - Banjarnegara. That's mean, saya bisa dinas sekaligus pulang kampung! Yes. Tanpa pikir panjang saya langsung membeli tiket kereta menuju Purwokerto dengan harapan bisa stay di rumah sebentar, kumpul sama keluarga dan main sama keponakan. Beberapa jam setelah membeli tiket kereta ternyata teman-teman saya berencana untuk mengadakan short trip ke Dieng. Sempet galau juga mau ikut apa nggak, secara kalau ngikut berarti waktu saya di rumah berkurang. Tapi kalau ngga ikut, perjalanan menuju Dieng sangat sayang untuk dilewatkan T-T. Fyi, Purwokerto - Banjarnegara - Dieng adalah wilayah yang berdekatan.

Setelah menimbang-nimbang seharian akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti acara short trip tersebut. Dalam waktu yang singkat kami mengurus segala keperluan menuju Dieng. Tiket, itenary, sewa mobil, dll. 

Sabtu siang kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen, sampai di Purwokerto sekitar jam 17.30. Setelah itu teman-teman mampir ke rumah saya untuk beristirahat sebentar karena kami sudah berencana berangkat ke Dieng malam itu juga demi mengejar sunrise Sikunir.

Empat jam berlalu, beberapa kami berhasil untuk lelap sesaat kemudian kami pun bergegas berangkat ke Dieng pada pukul 23.30. Perjalanan Purwokerto - Dieng memakan waktu sekitar dua setengah jam via jalur Purbalingga. Alhamdulillah perjalanan lancar karena jalanan cenderung sepi.

"Bukit Sikunir..."
Obyek wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Bukit Sikunir, dimana biasanya orang-orang ke sini untuk menikmati indahnya golden sunrise. Untuk masuk ke obyek wisata Sikunir kami melewati dua gate dimana setiap gatenya harus membayar uang retribusi. Gate pertama kami membayar untuk masuk ke kawasan Dieng (Rp 2000/orang), gate kedua kami membayar Rp 6000/orang untuk masuk ke kawasan Bukit Sikunir.

Kami tiba di kawasan Bukit Sikunir sekitar pukul 03.00. Hawanya dingin banget, cukup bikin menggigil bagi orang yang nggak biasa kena dingin. Bahkan kami sempat memesan mie kuah untuk menghangatkan diri sembari menunggu waktu yang tepat untuk mendaki Bukit SIkunir. 

Untuk mencapai puncak Sikunir, kami harus mendaki anak tangga yang masih alami berupa undakan-undakan yang disusun dari tanah dan batu. Bagi sebagian orang mungkin ini hal mudah ya, tapi bagi saya yang jarang olah raga rasanya berat banget pas jalan menuju puncak. Buset, saya nggak mbayangin kalo naik gunung gimana. Naik bukit aja udah ngos-ngosan haha.

Sesampainya di puncak, ternyata sudah banyak orang yang menunggu untuk melihat sunrise. Saat itu sekitar pukul 04.00, kami bisa melihat bintang-bintang yang bersinar dengan jelas. Bagus banget! Subhanallah. Puncak Gunung Prau juga terlihat dari bukit Sikunir. Saat itu kami ngga sabar dan optimis bisa melihat sunrise.

Tapi nasib berkata lain...

Menjelang pukul 04.30, kabut tiba-tiba turun. Bintang-bintang yang tadinya terlihat sinarnya, tiba-tiba sirna tertutup awan. Perasaan saya udah nggak enak. Dan benar saja, sampai jam 05.30 pagi sama sekali nggak ada tanda-tanda sinar matahari yang terlihat menerobos awan. Ini mendung! Hikssss. Sedih banget ngga bisa liat sunrise Sikunir yang terkenal itu. Memang belum rezeki kali ya.

Berhubung sudah terlanjur naik, nggak mungkin dong kami langsung pergi begitu aja.. Setidaknya foto dulu sama kabut Sikunir sebagai pertanda pernah sampai di puncak hehe.
Can you see that? Kabutnya tebel banget.
Muka-muka penonton yang kecewa :p
Dalam kabut, kami masih bahagia...
Puas berfoto-foto kami memutuskan untuk turun bukit untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Fyi, pas sampai di pintu masuk Sikunir, banyak penjual jajanan yang wajib banget dicobain! Ada beberapa yang menarik perhatian saya, diantarnya yaitu kentang bumbu kecap. Asli janjanan yang satu ini rasanya enak bangeeet!! 
Kentang bumbu kecap, satu porsi harganya Rp 5000
Nah, jajanan lain yang ngga kalah enak dan termasuk jajanan legendaris adalah... bandros a.k.a kue rangin!
Rangin hangat dimakan pake gula pasir. Nyumm!
"Telaga Warna..."
Destinasi selanjutnya adalah Telaga Warna! Ini adalah salah satu tempat yang menurut saya harus dikunjungi kalau udah main ke Dieng. Fokusnya adalah melihat keindahan danau alami dari atas bukit. Untuk masuk ke kawasan Telaga Warna, kami membayar biaya retribusi sebesar Rp 7500 (weekend) atau Rp 5000 (weekdays). 

Saat pertama kali masuk kawasan, kami disuguhi dengan bunga-bunga di kanan-kiri jalan. Cantik banget loh.
Selanjutnya kami diperlihatkan dengan danau Telaga Warna tak jauh dari pintu masuk. Kalau dari dekat biasa saja sih kelihatannya. Tapi kalau dilihat dari atas bukit....
Cool!
Fyi, untuk mendapatkan foto dengan angel seperti di atas kami harus mendaki bukit menuju tempat yang bernama Batu Ratapan Angin. Kemudian kami membayar retribusi lagi sebesar Rp 10.000/group. Kalau saya bilang sih worth it lah dengan pemandangan yang begitu menakjubkan untuk dinikmati.

"Candi Arjuna..."
Ini adalah destinasi terakhir kami di kawasan wisata Dieng. Lokasinya nggak jauh-jauh dari obyek wisata yang sebelumnya kami kunjungi. Tiket masuknya seharga Rp 10.000/orang. Di sini kami bisa melihat Candi dengan tatanan yang apik sekaligus menikmati pemandangan yang tidak kalah menarik.
Jalan-jalan ke Dieng memang best choice. Nggak nyesel main ke sini, pemandangannya bagus, sejuk, banyak ijo-ijonya. Pokoknya bikin fresh! Satu kurangnya, banyak biaya retribusi yang dikeluarkan saat berkunjung ke Dieng. Mulai dari biaya masuk ke kawasan Dieng, masuk ke tiap obyek wisatanya, belum lagi biaya untuk memakai toilet. Semuanya dikomersilkan. Yah walaupun ngga gede-gede amat biaya yang dikeluarkan, tapi repot juga kalo kemana-mana mesti bayar bahkan untuk sekedar ke toilet ._. Saran saya, siapkan receh yang banyak, karena saya yakin kalian bakal sering keluar masuk toilet karna hawa di sana memicu kita untuk buang air kecil hehe.

Ohya, selain mengunjungi obyek wisata, kami juga menyempatkan diri untuk mencicipi beberapa kuliner khas Wonosobo. Cek dipostingan selanjutnya yah! ;)













Kabar Gembira di Akhir Tahun

“Kabar yang melegakan, menggembirakan…”

Amplop putih. Melihatnya saja sudah deg-degan, apalagi membaca isinya. Hari itu, kabar tiba-tiba berhembus dari seseorang bahwa si amplop putih sudah berada ditangan sang nahkoda. Begitu histerisnya kami sampai-sampai nggak konsen kerja.

Deg-degan.

Penasaran.

Lalu kembali bertanya kapan si amplop putih itu diberikan kepada si empunya. Pikiran melayang, membayangkan di daerah mana akan hidup setelah membuka amplop tersebut. Membayangkan hal-hal sesuai harapan, indah… dan menuju area gelap setelah membayangkan tempat yang sama sekali tidak ingin kaki ini berpijak.

Momen menegangkan dimulai ketika sang nahkoda memberikan amplop putih tersebut kepada para rookie. Dijejerkanlah kami semua, dibukanya satu per satu si amplop putih keramat. Seketika mata mempertajam penglihatannya untuk mencari sebuah kata, berharap sesuai angan… namun kenyataannya, meleset!

Harapan tetaplah menjadi harapan ketika keputusan ada di si pemegang kuasa. Walau pun begitu saya tetap bersyukur, menerima kenyataan indah lain yang menyatakan bahwa saya resmi menjadi bagian dari sebuah perusahaan. Lega.

Apa pun keputusannya selama itu tidak bertentangan dengan perjanjian, saya terima.
Lingkungan baru, status baru.
Bersyukur tahun ini resmi menjadi bagian di suatu perusahaan. Hampir delapan bulan dan hari ini akhirnya datang juga. Semoga bisa mengemban amanah dengan baik, semakin berkembang dan mendapatkan ilmu baru, semoga selalu bahagia. Aamiin. Siap-siap untuk berpindah lagi untuk yang ke enam kalinya dalam tahun ini. Rekor pindah tempat tinggal terbanyak selama saya hidup!










Kopaja Ajaib


Minggu, 25 Oktober 2015 - Late post.

"Di sebuah halte busway bernama Duren Tiga, daerah Jakarta Selatan..."

Shock.
Adalah ekspresi ketika membaca pengumuman di pintu masuk halte busway yang bertuliskan "Halte busway ditutup sampai jam 12 karena jalanan digunakan untuk lari marathon." 

Bayangkan, dari kostan udah semangat banget mau jalan-jalan tiba-tiba dihadang sama tulisan macam gitu. Remuk hati adek, bang! </3. Mau balik, malu lah sama tetangga udah pamitan mau jalan. Mau lanjut jalan, ngga ngerti mau naik apa lewat mana haha.

Saya sempat nanya sama dua anak SMP yang lewat depan saya saat itu, angkutan umum apa yang ngelewatin Monas. Tapi mereka nggak tahu. Duh, ternyata ga semua orang Jakarta ngerti Jakarta. Kalau udah kayak gini ceritanya mari kita tanyakan saja pada ahlinya... Mbah Google! Mbah Google emang sangat membantu disaat-saat genting seperti ini. Pada saat itu saya mencari trayek kopaja yang menuju Museum Nasional Indonesia, trayeknya yang melewati Monas atau minimal yang mendekati Monas lah. Sampai akhirnya ketemu kode S.602. Menurut petunjuk yang saya temukan, itulah kopaja yang harus saya naiki menuju Monas.

Nggak lama setelah itu, datang juga S.602 lewat koridor busway. Karena posisi saya di seberang koridor busway otomatis saya harus nyeberang dong, trus ngelompatin pembatas koridor kayak atlet lompat tinggi gitu biar bisa masuk ke kopaja (lebay, don't try this anyway). Sebelum masuk kopaja saya nanya dulu ke Pak Kerneknya...

"Lewat Monas ga, Pak?" tanya saya (udah ngelangkahin satu kaki ke pintu tuh)
"Yaa nanti sesampainya aja lah, Neng." kata si Pak Kernek (dua kaki saya udah di dalam kopaja, kopaja mulai jalan).

DANGGGG!!

Perasaan saya langsung ga enak karena Pak Kernek memberi jawaban yang nggantung. Pak, nggak enak kali digantungiiin. Roman-romannya saya bakal turun di tempat antah berantah nih. Dan bener aja, semua jalan menuju Monas emang ditutup termasuk jalurnya S.602. Si S.602 pun cari jalur lain sampai akhirnya tiba di tujuan akhir yaitu... Tanah Abang.

DANGGGG!! (2)

Men, ini sih sama sekali nggak lewat Monas ya. Saya ngerasa kayak orang ilang di jalanan. Walau begitu saya berusaha untuk tetep kalem dan terlihat cool aja, biar ngga keliatan kayak orang bingung. Ohya, sebelumnya saya udah nyari info angkutan apa yang bisa saya naiki dari Tanah Abang menuju Monas, buat antisipasi kalau di turunin di Tanah Abang (yang akhirnya kejadian juga).

Sambil jalan ke tempat yang lebih ramai, saya memperhatikan angkot-angkot yang lewat. Angkot yang saya cari adalah nomer 08, jurusan kota. Sekitar tiga menitan saya memperhatikan angkot-angkot yang lewat, sayangnya saya nggak melihat ada angkot 08 yang lewat. Hmm, mungkin memang nggak lewat jalan ini pikir saya. Saya memutuskan untuk bertanya pada petugas Dishub yang sedang berjaga. FYI kalo di Jakarta hati-hati kalau mau nanya-nanya. Baiknya nanya sama orang yang memang bisa dipercaya misal polisi atau petugas resmi utusan pemerintah. Nah pas saya nanya ke Pak Dishub tiba-tiba dari arah lain muncul angkot yang digadang-gadang! Angkot 08 *.* Walaupun gak kekejar, setidaknya udah tau harus nunggu si 08 ini dimana.

Allah baik banget sama saya.
Walaupun menurut info Pak Dishub angkot 08 itu jarang lewat di depan Tanah Abang Blok B, tapi nggak pake lama si 08 datang menghampiri dan mengantarkan saya mendekati tujuan :')

Kisah naik angkutan umum belum berakhir sampai disitu, teman-teman. Setelah puas muter-muter menjelajah museum. Sekitar jam 11 saya keluar dari tempat tersebut kemudian mencari tempat duduk sambil menunggu busway kembali beroperasi. Sekitar satu jam saya menunggu sampai kerongkongan kering kerontang rasanya, akhirnya pintu halte dibuka juga. Ada tiga jurusan di halte Monas, saya memilih jurusan Ragunan. Akan tetapi baru aja duduk belum ada satu menit di dalam halte, ada petugas busway menghampiri.
"Mba mau ke arah Ragunan? Busway Ragunan baru dilepas sekitar jam setengah duaan, Mba."

DANGGGG!! (3)

Apaaah. Setengah dua?? Hello, cukup sudah saya menantikan kehadiranmu selama satu setengah jam, Busway. FYI, saya udah ada janji jam 2!

"Tapi kalau nggak naik busway naik apa dong??" dalam hati berbisik. Secara posisi udah diujung koridor busway, sedangkan antrian di belakang saya bejubelnya nggak ketulungan. Seperti terjebak.

Dan lagi, Allah baiiiiik banget sama saya. Pertanyaan saya dijawab seketika dengan munculnya sebuah kopaja dari kejauhan. Iya kopaja. Kamu tau nomernya berapa? S.602! Harapan untuk bisa kembali ke kost tepat waktu semakin mengembang. Dan ajaibnya, kopaja S.602 yang lewat ini adalah kopaja yang pagi tadi saya tumpangi! Dari sekian banyak armada kopaja di ibu kota, saya dipertemukan kembali dengan kopaja yang satu ini hahaha. Supir dan kerneknya masih sama kayak tadi pagi. Saya sempet senyum-senyum sendiri di dalam kopaja pas ngalamin kejadian ini hahaha, ajaib!
Si Bapak Kernek Kopaja Ajaib
Sebenernya saya pengen ngambil foto kopajanya, tapi siang itu nggak sempet ngambil fotonya. Sampai sorenya, kejadian ajaib muncul kembali. Saya ketemu dengan kopaja S.602 yang sama lagi! Hahaha. Buru-buru saya ambil kamera terus mengambil fotonya. 
Kopaja Ajaib
Hikmah yang bisa diambil adalah...
1. Harus tenang saat menghadapi masalah dan berpikir jernih untuk mencari solusi.
2. Gercep! Iya gerak cepat dalam mengambil kesempatan dan keputusan.
3. Smartphone is needed in this era.
4. Bawa bekal yang cukup! Terutama stok air, biar nggak kehausan pas jalan.





Featured Store on Tees!

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kabar gembira via email dari Tees. Bunyinya begini...


"Selamat! Toko kamu terpilih sebagai featured stores minggu ini..."


Alhamdulillah, seneng rasanya begitu tau toko saya di tees yang bernama PLY terpilih menjadi featured store. Saya mendapat kesempatan diwawancarai melalui email oleh Marshelia (crew-nya Tees) dan juga dapet beberapa souvenir yang desainnya saya bikin sendiri. Seneng? Seneng? Pastinyaaa :D

By the way, mungkin ada yang belum tau dan bertanya-tanya Tees itu apaan. Saya jelaskan secara singkat aja ya. Tees itu semacam tempat para desainer bisa submit karyanya ke website Tees kemudian menjual karya tersebut dalam berbagai produk yang disediakan oleh Tees. Bisa dalam bentuk kaos, tote bag, block note, print, dan lain sebagainya. Jadi desainer nggak perlu susah-susah mikir gimana caranya bikin produk. Cukup bikin toko di Tees, bikin desain, submit, atur posisi pada template yang disediakan, tentukan harga jualnya, udah deh tinggal nunggu ada yang beli. Simpel banget kan.


Nah, berhubung saya punya hobi desain, sering iseng-iseng desain trus bingung desainnya mau diapain akhirnya saya memutuskan untuk membuat toko di Tees. Kayak begini nih penampakan toko saya di Tees.

Kebanyakan desain yang saya buat saya aplikasikan ke produk kaos, casing hp dan tas. Buat kamu yang mau beli, bisa banget loh mampir ke toko saya *promosi* hehehe.

Balik lagi ke topik Featured Store. Hasil wawancara yang saya lakukan bisa dilihat di blognya Tees (bisa klik di sini). Saya mendapat beberapa souvenir yang desainnya saya bikin sendiri. Ada tujuh item! Lumayan banyak kan, bagus-bagus lagi, bisa cek blognya Tees kalau mau lihat hehe. Dan lagi, toko saya jadi terpampang di halaman depan Tees!

Terima kasih atas apresiasinya Tees! Sukses terus.










Best Moments - Pendidikan Sikap, Mental dan Disiplin

Baca juga: Tips mengikuti Samapta, klik di sini.

“Derap langkah nan gagah perkasa. Seirama dan satu suara. Sambil bernyanyi lagu hura-hura itulah kami siswa Indonesia Power!” Itulah sepenggal lirik lagu yang kami nyanyikan saat latihan di pusat pendidikan.
Tanda tangan kontrak di perusahaan pada tanggal 6 April 2015 telah mengantarkan kami menuju pintu gerbang Pusat Pendidikan Zeni TNI AD Bogor untuk melaksanakan pendidikan prajabatan yang pertama yaitu pendidikan sikap, mental dan disiplin.

“Pendidikan sikap, mental dan disiplin?”
Ada banyangan tentang pendidikan ini? Sengaja nggak nyari tau banyak-banyak soal pendidikan semacam itu, biar surprise. Mmm, aslinya biar nggak mikir yang aneh-aneh sih haha. Anyway, sudah lama saya menantikan kegiatan yang seru dan menantang, jadi ini adalah momen yang pas... mengikuti kegiatan baru, bersama teman-teman baru, tempat baru dan yang pasti pengalaman baru.

“Kegiatan kami...”
Selama sepuluh hari kami mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah diatur oleh pusdik. Setiap harinya dimulai dengan kegiatan wajib seperti senam pagi, sarapan, apel pagi dan lain sebagainya, kemudian penerimaan materi di kelas, materi di lapangan, serta latihan luar.
Apel Pagi
Latihan luar dilaksanakan di Gunung Pancar, dan sebagian besar jenis materinya adalah praktik. Ada P3K, mountenering, latihan simulasi tempur, caraka malam, outbound, navigasi darat, dan yang lain sebagainya. Semua kegiatan nggak jauh-jauh dari pembinaan fisik dan karakter. Fisik dilatih, mental ditempa, otak pun harus tetap bisa mikir jernih dalam keadaan seberat apapun. Semua kegiatan tersebut harus dijalani dengan disiplin. Kalau nggak? Siap-siap aja dapet hadiah! x)) *if you know what i mean*
Latihan Luar
“Para pelatih kami...”
Sebenarnya pelatih kami jumlahnya banyak. Tapi ada beberapa pelatih yang selalu ada saat pendidikan berlangsung. Mereka adalah Dansatsis, kalau nggak salah kependekan dari Komandan Satuan Siswa (maaf kalau kurang tepat hehe). Seseorang yang mengawasi proses pendidikan serta membawahi Batih dan beberapa Dankelas. Batih atau Bintara Pelatih adalah seseorang yang melatih kami selama pendidikan. Batih dibantu oleh beberapa Dankelas atau Komandan Kelas dalam mendidik para siswa. 

“Yang ada dalam uneg-uneg...”

Seru!
Ini adalah kali pertama saya mengikuti pendidikan yang diampu langsung oleh militer. To be honest I feel so proud! Jarang-jarang kan orang sipil bisa merasakan pendidikan yang diampu langsung sama militer? Bisa melihat sedikit kehidupan militer yang sebelumnya sama sekali nggak pernah terbayangkan. Dan yang lebih seru lagi bisa merasakan sedikit dari banyak kegiatan mereka. Seru banget! Walaupun agak kaget pas awal, tapi alhamdulillah saya bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru. Kuncinya, di bawa enjoy aja! ;)

Pendidikan yang Mendidik
Di pusat pendidikan saya menyadari bahwa pendidikan sikap, mental dan disiplin adalah sesuatu yang bisa tercipta melalui kebiasaan. Jadi tidak bisa secara tiba-tiba muncul. Butuh waktu untuk membentuk semua itu agar tertanam dalam diri siswa. Dan tentunya butuh pelatih yang profesional, yang mampu mendidik dengan baik, mengawasi perilaku siswa agar tetap dalam koridor yang benar dan mampu menyampaikan muatan-muatan dari setiap kegiatan.

Hal yang saya sangat ingat saat mengikuti pendidikan ini adalah momen ketika saya dan teman-teman diberi tekanan tinggi yang menguji limit ketahanan kami, rasanya pengen berontak, lalu dalam hati ngedumel “ngapain sih ngelakuin beginian??” Namun di akhir, pelatih menjelaskan kepada kami alasan untuk melakukan hal tersebut. Ternyata ada makna disetiap tindakan yang pelatih instruksikan dan poin pentingnya hal itu disampaikan secara gamblang. Sebagai seorang yang awam dengan pelatihan sikap, mental dan disiplin, sebuah konklusi yang disampaikan pelatih membantu saya memahami untuk apa saya melakukan hal tersebut. Efeknya saya jadi merasa kalem dan ikhlas dalam menjalani setiap kegiatan. *eaaa*

Perubahan Fisik
Jelas ada, terutama bagian warna kulit. Brightness-nya turun drastis. Kalau di photoshop mungkin udah -70 kali. Hitam legam, kucel kayak anak layangan hahaha. Kemudian kaki yang mulus berubah menjadi bersisik dan mengelupas karena kelamaan memakai sepatu PDL yang pada akhirnya menimbulkan ruam di kulit. Gimana nggak ruam, mau kering mau basah yang dipakai ya satu sepatu itu T-T.

Menguras Tenaga
Banget! Setiap selesai apel malam nggak ada pikiran lain selain tidur. Tenaga rasanya kayak dikuras habis-habisan. Habis bisss. Melihat kasur itu bagaikan surga dunia. Tidur pasti pulas saking capeknya mengikuti kegiatan seharian, sampai-sampai nggak peduli sama kamar paviliun yang kalau dipikir-pikir serem juga ternyata. Tepar! Iya tepar banget sampai tidur selama sepuluh hari berturut-turut nggak ada mimpinya hahaha.

Best Moments
Sepertinya selama seumur hidup saya nggak akan pernah melupakan momen-momen selama di pusdik. Banyak momen-momen tak terlupakan yang mungkin nggak cukup diceritakan dalam satu hari. Dari banyak momen yang tersimpan, ada beberapa yang menjadi favorit saya. Mau tau?

1. Mendadak jadi leader yel-yel


Saya dan Kak Hest sedang memimpin yel-yel
Walaupun dalam keadaan capek, lemes, kaki pegel-pegel dan badan bau apek(?) kalau udah diminta yel-yel pasti semuanya kembali bersemangat. Semua teriak sekencang-kencangnya. Oh ya fyi, di angkatan saya perbandingan siswa laki-laki dan perempuan perbedaannya sangat jauh, 59:2. Yang artinya dari 61 siswa hanya ada 2 perempuan di antara 59 laki-laki. Oleh karena itu 2 srikandi ini selalu menjadi sorotan di setiap kegiatan, dan otomatis kami berdua menjadi sasaran empuk saat ada momen-momen yang diminta untuk tampil ke depan :))

2. Menenteng senjata peninggalan 
Senjata itu bernama Garand (baca: jeren). Sebuah senjata klasik laras panjang yang digunakan oleh para pejuang saat mengusir penjajah. Itu berarti umur senjata ini sudah tua sekali. Beratnya sekitar 4 - 5 kg, dan itu adalah beban yang harus kami bawa sehari-hari selama latihan. Hari-hari kami tidak pernah jauh-jauh dari Garand. Sampai-sampai saya merasa lengan saya semakin berotot gara-gara tiap hari bawa senjata *lol*. Selain menenteng senjata, kami juga diajarkan berbagai sikap ketika membawa senjata seperti hormat senjata, sikap siap atau istirahat saat membawa senjata, serta cara membawa senjata saat berjalan maupun berlari. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah meninggalkan senjata tanpa ada yang bertanggung jawab. Prinsipnya "lebih baik kehilangan satu nyawa daripada kehilangan satu senjata" (y).

3. Membangun Bivak

Dalam rangka latihan luar, kami semua diharuskan membuat bivak sebagai tempat bermalam. Sebelumnya kami sudah diajarkan bagaimana membangun sebuah bivak oleh pelatih. Teori lolos lah ya, begitu praktik... eng ing eng... Sudah sekuat tenaga kami membangun bivak, tapi nampaknya konstruksinya masih saja kurang layak huni hahaha. Untung cuaca pada saat itu sedang bagus, jadi sedikit mengurangi kekhawatiran :d


4. Bongkar Pasang Senjata

Ini dia best from the best moments ever! Bongkar pasang senjata. By the way, foto ini diambil saat acara penutupan diklat. Sepuluh siswa tampil ke depan memperagakan bongkar pasang senjata. Itu senjata beneran loh, namanya M16. Jadi pas display di depan kami mempreteli M16, menunjukkan bagian per bagian kepada tamu undangan, setelah itu merakitnya kembali secara bersamaan. You know what, it's amazing!

6. Sharing and Relaxing
Momen yang saya tunggu-tunggu setelah seharian mengikuti kegiatan adalah momen cerita santai jam 8. Terlebih kalau yang ngisi Batih. Ceritanya banyak, dari yang serius, semi serius, sampai nggak serius ada hahaha. Batih is the best pokoknya!

Banyak hal yang saya dapatkan ketika mengikuti pendidikan. Saya belajar tentang pentingnya kedisiplinan, kerjasama, kepedulian, perjuangan, berpikir taktis, ketahanan fisik dan mental, dan banyak lagi yang lainnya. Satu hal yang sangat membekas dipikiran saya adalah sebuah pemikiran tentang ketangguhan. Bahwa manusia dapat melakukan berbagai hal sekali pun itu berat asalkan manusia tersebut mampu mendorong jauh sifat keputusaan dalam dirinya. 

"Apa pun bisa kita lakukan, kecuali makan kepala sendiri. Tinggal kitanya saja, mau melakukan atau tidak." - Batih.

Baca juga tips ketika akan mengikuti samapta yuk? Klik di sini ;)




Jelajah Sejarah - Museum Nasional Indonesia

Ada yang belum pernah ke Museum Nasional Indonesia? Kamu yang di Jakarta harusnya udah bolak balik ke sini. Rugi berat kalau belum nyempetin main ke museum terkece di seantero DKI Jakarta ini.
Musem Nasional Indonesia (Gedung A)
Museum Nasional Indonesia yang sering juga disebut Museum Gajah terletak di tengah-tengah kota tepatnya Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Kamu bisa naik busway lalu turun di halte Monas. Udah deh setelah itu tinggal nyeberang, langsung sampai di pelataran museum. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung cukup membeli tiket masuk seharga Rp 5000. Setelah itu pengunjung dapat menjelajah museum sepuasnya.
Tiket Masuk
Museum Nasional memiliki bentuk bangunan yang megah dengan arsitektur gaya Eropa. Entah kenapa ya saya selalu suka kalau melihat bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Terlihat kokoh, langit-langitnya yang tinggi memberi efek luas dan sejuk pada ruangannya, selalu ada taman hijau yang cantik, nyaman dilihat dan setiap bangunan seperti punya kisah tersendiri. Kira-kira seperti itu yang terlintas dipikiran saya saat meilhat bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat dengan baik.
Bagian Depan Musem Nasional Indonesia (Gedung B)
Icon di Depan Museum Nasional Indonesia
Sebagai orang Indonesia, udah semestinya mengenal negerinya sendiri. Bukan berarti menggurui, wawasan saya mengenai Indonesia sebenernya belum seberapa. Tapi nggak ada salahnya kalau mulai mempelajari sejarah dan budaya bangsa kita sendiri kan? Salah satu caranya ya dengan mengunjungi museum. Saya sangat bangga ketika berkunjung ke Museum Nasional Indonesia. Lewat koleksinya, Museum Nasional Indonesia memperlihatkan dan menyadarkan saya bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang KAYA. Iya kaya banget!! Kaya akan seni dan budaya. Saya takjub begitu melihat berbagai koleksi buatan tangan-tangan pribumi dari daerah barat hingga timur Indonesia.

Di Museum Nasional Indonesia, saya bisa melihat upaya pemerintah untuk membuat museum dengan konsep yang bisa menaungi seluruh kekayaan negeri. Terlihat dari penataan koleksinya yang terbagi menjadi beberapa kategori di gedung A dan B. Gedung A sebagai pusat koleksi dari jaman prasejarah hingga koleksi sejarah Indonesia. Sedangkan gedung B dibuat dengan tema koleksi yang lebih modern. Seperti iptek, organisasi sosial dan pola pemukiman, manusia dan lingkungan, dll.
Ruang Belanda - Portugis
Meriam Peninggalan Zaman Belanda - Portugis
Banyak sekali koleksi yang bisa dilihat di gedung A, dan yang paling menarik perhatian saya adalah koleksi arkeologi yang terletak di halaman dalam gedung A. Asli kamu harus ke sini! Koleksi patung-patung Hindu-Budha ditata secara apik di kanan dan kiri koridor. Dan yang nggak kalah menarik adalah koleksi arkeologi yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk taman yang ciamik! 
Halaman Dalam Museum Nasional Indonesia (Gedung A)
Halaman Dalam Museum Nasional Indonesia (Gedung A)
Arca Ganesha
Selain itu, di gedung A juga terdapat beragam koleksi tekstil dari berbagai daerah, keramik dari dalam dan luar negeri, serta beragam etnografi Indonesia yang bisa dinikmati pengunjung. 
Koleksi Tekstil dari Kalimantan
Koleksi Keramik
Koleksi Gamelan Jawa Tengah
Buat jelajah museum ini saya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Lama ya? Iya. Soalnya pas di dalam museum rasanya saya seperti tersihir oleh koleksi-koleksi yang dipajang. Rasanya sayang kalau melewatkan display-display yang ditata rapi dan cantik.

Nggak mau kan melewatkan museum yang satu ini? 
Bagi yang berminat menjelajahi Museum Nasional Indonesia bisa datang dari hari Selasa sampai Minggu, dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore (weekdays) dan jam 8 pagi sampai jam 5 sore (weekend).