Showing posts with label Traveling. Show all posts
Mie Ongklok Wonosobo & Es Durian Purbalingga
"Mie Ongklok..."
Well, di post sebelumnya saya udah janji ya mau cerita soal kulineran di Wonosobo. Pernah denger mie ongklok? Mie yang tenar banget di Wonosobo. Karna penasaran kemarin pas main ke Dieng - Wonosobo sengaja disempeti-sempetin mampir di warung makan mie ongklok.
Salah satu mie ongklok yang sepertinya terkenal dan paling banyak di index google adalah Mie Onglok Longkrang. Lokasinya di Jl. Pasukan Ronggolawe No. 14, Wonosobo. Warung makannya sederhana, nggak gede-gede amat sih tapi rame terus.
Jadi... apa itu mie ongklok?? Mie ongklok adalah mie. Yaiyalaaaah masa kerupuk. Oke, serius. Komposisi mie ongklok itu terdiri dari mie kuning kecil pipih, kemudian ada potongan kol, kucai, bawang goreng, taburan kacang yang udah dialusin dan ada ebinya juga. Kuahnya nggak kayak kuah mie pada umumnya, lebih kental kayak ada campuran pati. Rasanya? Manisss, denger cerita manisnya berasal dari gula jawa. Terus mie ongklok itu khasnya disajikan bersama sate sapi yang rasanya manis juga. Buat temen-temen yang suka rasa manis saya rasa kalian cocok dengan kuliner yang satu ini. Harga mie ongklok longkrang satu porsinya Rp 7500, terus buat satenya Rp 8500 / porsinya.
Kalau rasanya manis doang kayaknya kurang maknyus yah? Tenang, di warung Mie Ongklok Longkrang sudah disediakan sambal cabe rawit yang bisa bikin rasa mie ongklok makin endesss. Duh, saya jadi nelen ludah nih pas nulis postingan ini haha.
"Es Durian Purbalingga.."
Buat kamu yang pecinta es durian, Es Durian Purbalingga Pak Kasdi wajib buat kamu cobain. Lokasinya di depan Kodim 0702 Purbalingga. Asli rasanya enak banget! Duriannya asli dan banyak. Dijamin kalau udah nyobain sekali pasti ketagihan.
Satu porsi es durian original dihargai Rp 15.000. Ohya varian es di sini ngga cuma es durian loh. Ada es kopyor, es kopyor durian, es campur, es durian + campur, dll. Masing-masing punya harga yang beda, tinggal disesuaikan dengan selera ;)
Quick Escape: Dieng - Wonosobo
Sabtu, 21 Februari 2016
Dua hari sebelumnya saya mendapat kabar via email untuk menghadiri acara Forum IT di salah satu unit perusahaan saya, UP Mrica - Banjarnegara. That's mean, saya bisa dinas sekaligus pulang kampung! Yes. Tanpa pikir panjang saya langsung membeli tiket kereta menuju Purwokerto dengan harapan bisa stay di rumah sebentar, kumpul sama keluarga dan main sama keponakan. Beberapa jam setelah membeli tiket kereta ternyata teman-teman saya berencana untuk mengadakan short trip ke Dieng. Sempet galau juga mau ikut apa nggak, secara kalau ngikut berarti waktu saya di rumah berkurang. Tapi kalau ngga ikut, perjalanan menuju Dieng sangat sayang untuk dilewatkan T-T. Fyi, Purwokerto - Banjarnegara - Dieng adalah wilayah yang berdekatan.
Setelah menimbang-nimbang seharian akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti acara short trip tersebut. Dalam waktu yang singkat kami mengurus segala keperluan menuju Dieng. Tiket, itenary, sewa mobil, dll.
Sabtu siang kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen, sampai di Purwokerto sekitar jam 17.30. Setelah itu teman-teman mampir ke rumah saya untuk beristirahat sebentar karena kami sudah berencana berangkat ke Dieng malam itu juga demi mengejar sunrise Sikunir.
Empat jam berlalu, beberapa kami berhasil untuk lelap sesaat kemudian kami pun bergegas berangkat ke Dieng pada pukul 23.30. Perjalanan Purwokerto - Dieng memakan waktu sekitar dua setengah jam via jalur Purbalingga. Alhamdulillah perjalanan lancar karena jalanan cenderung sepi.
"Bukit Sikunir..."
Obyek wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Bukit Sikunir, dimana biasanya orang-orang ke sini untuk menikmati indahnya golden sunrise. Untuk masuk ke obyek wisata Sikunir kami melewati dua gate dimana setiap gatenya harus membayar uang retribusi. Gate pertama kami membayar untuk masuk ke kawasan Dieng (Rp 2000/orang), gate kedua kami membayar Rp 6000/orang untuk masuk ke kawasan Bukit Sikunir.
Kami tiba di kawasan Bukit Sikunir sekitar pukul 03.00. Hawanya dingin banget, cukup bikin menggigil bagi orang yang nggak biasa kena dingin. Bahkan kami sempat memesan mie kuah untuk menghangatkan diri sembari menunggu waktu yang tepat untuk mendaki Bukit SIkunir.
Untuk mencapai puncak Sikunir, kami harus mendaki anak tangga yang masih alami berupa undakan-undakan yang disusun dari tanah dan batu. Bagi sebagian orang mungkin ini hal mudah ya, tapi bagi saya yang jarang olah raga rasanya berat banget pas jalan menuju puncak. Buset, saya nggak mbayangin kalo naik gunung gimana. Naik bukit aja udah ngos-ngosan haha.
Sesampainya di puncak, ternyata sudah banyak orang yang menunggu untuk melihat sunrise. Saat itu sekitar pukul 04.00, kami bisa melihat bintang-bintang yang bersinar dengan jelas. Bagus banget! Subhanallah. Puncak Gunung Prau juga terlihat dari bukit Sikunir. Saat itu kami ngga sabar dan optimis bisa melihat sunrise.
Tapi nasib berkata lain...
Menjelang pukul 04.30, kabut tiba-tiba turun. Bintang-bintang yang tadinya terlihat sinarnya, tiba-tiba sirna tertutup awan. Perasaan saya udah nggak enak. Dan benar saja, sampai jam 05.30 pagi sama sekali nggak ada tanda-tanda sinar matahari yang terlihat menerobos awan. Ini mendung! Hikssss. Sedih banget ngga bisa liat sunrise Sikunir yang terkenal itu. Memang belum rezeki kali ya.
Berhubung sudah terlanjur naik, nggak mungkin dong kami langsung pergi begitu aja.. Setidaknya foto dulu sama kabut Sikunir sebagai pertanda pernah sampai di puncak hehe.
![]() |
| Can you see that? Kabutnya tebel banget. |
![]() |
| Muka-muka penonton yang kecewa :p |
![]() |
| Dalam kabut, kami masih bahagia... |
Puas berfoto-foto kami memutuskan untuk turun bukit untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Fyi, pas sampai di pintu masuk Sikunir, banyak penjual jajanan yang wajib banget dicobain! Ada beberapa yang menarik perhatian saya, diantarnya yaitu kentang bumbu kecap. Asli janjanan yang satu ini rasanya enak bangeeet!!
![]() |
| Kentang bumbu kecap, satu porsi harganya Rp 5000 |
Nah, jajanan lain yang ngga kalah enak dan termasuk jajanan legendaris adalah... bandros a.k.a kue rangin!
![]() |
| Rangin hangat dimakan pake gula pasir. Nyumm! |
"Telaga Warna..."
Destinasi selanjutnya adalah Telaga Warna! Ini adalah salah satu tempat yang menurut saya harus dikunjungi kalau udah main ke Dieng. Fokusnya adalah melihat keindahan danau alami dari atas bukit. Untuk masuk ke kawasan Telaga Warna, kami membayar biaya retribusi sebesar Rp 7500 (weekend) atau Rp 5000 (weekdays).
Saat pertama kali masuk kawasan, kami disuguhi dengan bunga-bunga di kanan-kiri jalan. Cantik banget loh.
Selanjutnya kami diperlihatkan dengan danau Telaga Warna tak jauh dari pintu masuk. Kalau dari dekat biasa saja sih kelihatannya. Tapi kalau dilihat dari atas bukit....
![]() |
| Cool! |
Fyi, untuk mendapatkan foto dengan angel seperti di atas kami harus mendaki bukit menuju tempat yang bernama Batu Ratapan Angin. Kemudian kami membayar retribusi lagi sebesar Rp 10.000/group. Kalau saya bilang sih worth it lah dengan pemandangan yang begitu menakjubkan untuk dinikmati.
"Candi Arjuna..."
Ini adalah destinasi terakhir kami di kawasan wisata Dieng. Lokasinya nggak jauh-jauh dari obyek wisata yang sebelumnya kami kunjungi. Tiket masuknya seharga Rp 10.000/orang. Di sini kami bisa melihat Candi dengan tatanan yang apik sekaligus menikmati pemandangan yang tidak kalah menarik.
Jalan-jalan ke Dieng memang best choice. Nggak nyesel main ke sini, pemandangannya bagus, sejuk, banyak ijo-ijonya. Pokoknya bikin fresh! Satu kurangnya, banyak biaya retribusi yang dikeluarkan saat berkunjung ke Dieng. Mulai dari biaya masuk ke kawasan Dieng, masuk ke tiap obyek wisatanya, belum lagi biaya untuk memakai toilet. Semuanya dikomersilkan. Yah walaupun ngga gede-gede amat biaya yang dikeluarkan, tapi repot juga kalo kemana-mana mesti bayar bahkan untuk sekedar ke toilet ._. Saran saya, siapkan receh yang banyak, karena saya yakin kalian bakal sering keluar masuk toilet karna hawa di sana memicu kita untuk buang air kecil hehe.Ohya, selain mengunjungi obyek wisata, kami juga menyempatkan diri untuk mencicipi beberapa kuliner khas Wonosobo. Cek dipostingan selanjutnya yah! ;)
Kopaja Ajaib
Minggu, 25 Oktober 2015 - Late post.
"Di
sebuah halte busway bernama Duren Tiga, daerah Jakarta Selatan..."
Shock.
Adalah
ekspresi ketika membaca pengumuman di pintu masuk halte busway yang bertuliskan
"Halte busway ditutup sampai jam 12 karena jalanan digunakan untuk lari
marathon."
Bayangkan,
dari kostan udah semangat banget mau jalan-jalan tiba-tiba dihadang sama
tulisan macam gitu. Remuk hati adek, bang! </3. Mau balik, malu lah sama
tetangga udah pamitan mau jalan. Mau lanjut jalan, ngga ngerti mau naik apa
lewat mana haha.
Saya
sempat nanya sama dua anak SMP yang lewat depan saya saat itu, angkutan umum
apa yang ngelewatin Monas. Tapi mereka nggak tahu. Duh, ternyata ga semua orang
Jakarta ngerti Jakarta. Kalau udah kayak gini ceritanya mari kita tanyakan saja
pada ahlinya... Mbah Google! Mbah Google emang sangat membantu disaat-saat
genting seperti ini. Pada saat itu saya mencari trayek kopaja yang menuju Museum Nasional Indonesia, trayeknya yang melewati
Monas atau minimal yang mendekati Monas lah. Sampai akhirnya ketemu kode S.602.
Menurut petunjuk yang saya temukan, itulah kopaja yang harus saya naiki menuju
Monas.
Nggak
lama setelah itu, datang juga S.602 lewat koridor busway. Karena posisi saya di
seberang koridor busway otomatis saya harus nyeberang dong, trus ngelompatin
pembatas koridor kayak atlet lompat tinggi gitu biar bisa masuk ke kopaja
(lebay, don't try this anyway). Sebelum masuk kopaja saya nanya dulu ke Pak
Kerneknya...
"Lewat
Monas ga, Pak?" tanya saya (udah ngelangkahin satu kaki ke pintu tuh)
"Yaa
nanti sesampainya aja lah, Neng." kata si Pak Kernek (dua kaki saya udah
di dalam kopaja, kopaja mulai jalan).
DANGGGG!!
Perasaan
saya langsung ga enak karena Pak Kernek memberi jawaban yang nggantung. Pak,
nggak enak kali digantungiiin. Roman-romannya saya bakal turun di tempat antah
berantah nih. Dan bener aja, semua jalan menuju Monas emang ditutup termasuk
jalurnya S.602. Si S.602 pun cari jalur lain sampai akhirnya tiba di tujuan
akhir yaitu... Tanah Abang.
DANGGGG!!
(2)
Men,
ini sih sama sekali nggak lewat Monas ya. Saya ngerasa kayak orang ilang di
jalanan. Walau begitu saya berusaha untuk tetep kalem dan terlihat cool aja,
biar ngga keliatan kayak orang bingung. Ohya, sebelumnya saya udah nyari info
angkutan apa yang bisa saya naiki dari Tanah Abang menuju Monas, buat
antisipasi kalau di turunin di Tanah Abang (yang akhirnya kejadian juga).
Sambil
jalan ke tempat yang lebih ramai, saya memperhatikan angkot-angkot yang lewat.
Angkot yang saya cari adalah nomer 08, jurusan kota. Sekitar tiga menitan saya
memperhatikan angkot-angkot yang lewat, sayangnya saya nggak melihat ada angkot 08 yang
lewat. Hmm, mungkin memang nggak lewat jalan ini pikir saya. Saya memutuskan
untuk bertanya pada petugas Dishub yang sedang berjaga. FYI kalo di Jakarta
hati-hati kalau mau nanya-nanya. Baiknya nanya sama orang yang memang bisa
dipercaya misal polisi atau petugas resmi utusan pemerintah. Nah pas saya nanya
ke Pak Dishub tiba-tiba dari arah lain muncul angkot yang digadang-gadang!
Angkot 08 *.* Walaupun gak kekejar, setidaknya udah tau harus nunggu si 08 ini
dimana.
Allah
baik banget sama saya.
Walaupun
menurut info Pak Dishub angkot 08 itu jarang lewat di depan Tanah Abang Blok B,
tapi nggak pake lama si 08 datang menghampiri dan mengantarkan saya mendekati
tujuan :')
Kisah
naik angkutan umum belum berakhir sampai disitu, teman-teman. Setelah puas muter-muter menjelajah museum. Sekitar jam 11 saya keluar
dari tempat tersebut kemudian mencari tempat duduk sambil menunggu busway kembali beroperasi. Sekitar
satu jam saya menunggu sampai kerongkongan kering kerontang rasanya, akhirnya
pintu halte dibuka juga. Ada tiga jurusan di halte Monas, saya memilih jurusan
Ragunan. Akan tetapi baru aja duduk belum ada satu menit di dalam halte, ada
petugas busway menghampiri.
"Mba
mau ke arah Ragunan? Busway Ragunan baru dilepas sekitar jam setengah duaan,
Mba."
DANGGGG!!
(3)
Apaaah.
Setengah dua?? Hello, cukup sudah saya menantikan kehadiranmu selama satu setengah
jam, Busway. FYI, saya udah ada janji jam 2!
"Tapi
kalau nggak naik busway naik apa dong??" dalam hati berbisik. Secara posisi udah diujung koridor busway, sedangkan antrian di belakang saya bejubelnya nggak ketulungan. Seperti terjebak.
Dan
lagi, Allah baiiiiik banget sama saya. Pertanyaan saya dijawab seketika dengan munculnya
sebuah kopaja dari kejauhan. Iya kopaja. Kamu tau nomernya berapa? S.602!
Harapan untuk bisa kembali ke kost tepat waktu semakin mengembang. Dan ajaibnya, kopaja S.602 yang lewat ini adalah kopaja yang pagi tadi saya tumpangi!
Dari sekian banyak armada kopaja di ibu kota, saya dipertemukan kembali dengan
kopaja yang satu ini hahaha. Supir dan kerneknya masih sama kayak tadi pagi.
Saya sempet senyum-senyum sendiri di dalam kopaja pas ngalamin kejadian ini
hahaha, ajaib!
![]() |
| Si Bapak Kernek Kopaja Ajaib |
Sebenernya
saya pengen ngambil foto kopajanya, tapi siang itu nggak sempet ngambil
fotonya. Sampai sorenya, kejadian ajaib muncul kembali. Saya ketemu dengan
kopaja S.602 yang sama lagi! Hahaha. Buru-buru saya ambil kamera terus
mengambil fotonya.
Hikmah
yang bisa diambil adalah...
1.
Harus tenang saat menghadapi masalah dan berpikir jernih untuk mencari solusi.
2.
Gercep! Iya gerak cepat dalam mengambil kesempatan dan keputusan.
3.
Smartphone is needed in this era.
4. Bawa
bekal yang cukup! Terutama stok air, biar nggak kehausan pas jalan.
Jelajah Sejarah - Museum Nasional Indonesia
Ada
yang belum pernah ke Museum Nasional Indonesia? Kamu
yang di Jakarta harusnya udah bolak balik ke sini. Rugi berat kalau belum
nyempetin main ke museum terkece di seantero DKI Jakarta ini.
Museum
Nasional Indonesia yang sering juga disebut Museum Gajah terletak di
tengah-tengah kota tepatnya Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Kamu bisa
naik busway lalu turun di halte Monas. Udah deh setelah itu tinggal nyeberang,
langsung sampai di pelataran museum. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung cukup
membeli tiket masuk seharga Rp 5000. Setelah itu pengunjung dapat menjelajah
museum sepuasnya.
Museum
Nasional memiliki bentuk bangunan yang megah dengan arsitektur gaya Eropa. Entah
kenapa ya saya selalu suka kalau melihat bangunan-bangunan peninggalan zaman
Belanda. Terlihat kokoh, langit-langitnya yang tinggi memberi efek luas dan
sejuk pada ruangannya, selalu ada taman hijau yang cantik, nyaman dilihat dan
setiap bangunan seperti punya kisah tersendiri. Kira-kira seperti itu yang
terlintas dipikiran saya saat meilhat bangunan-bangunan peninggalan Belanda
yang masih terawat dengan baik.
![]() |
| Tiket Masuk |
![]() | ||
Bagian Depan Musem Nasional Indonesia (Gedung B)
|
Sebagai
orang Indonesia, udah semestinya mengenal negerinya sendiri. Bukan berarti
menggurui, wawasan saya mengenai Indonesia sebenernya belum seberapa. Tapi
nggak ada salahnya kalau mulai mempelajari sejarah dan budaya bangsa kita
sendiri kan? Salah satu caranya ya dengan mengunjungi museum. Saya sangat
bangga ketika berkunjung ke Museum Nasional Indonesia. Lewat koleksinya, Museum
Nasional Indonesia memperlihatkan dan menyadarkan saya bahwa Indonesia
merupakan sebuah negara yang KAYA. Iya kaya banget!! Kaya akan seni dan budaya.
Saya takjub begitu melihat berbagai koleksi buatan tangan-tangan pribumi dari
daerah barat hingga timur Indonesia.
Di
Museum Nasional Indonesia, saya bisa melihat upaya pemerintah untuk membuat
museum dengan konsep yang bisa menaungi seluruh kekayaan negeri. Terlihat dari
penataan koleksinya yang terbagi menjadi beberapa kategori di gedung A dan B.
Gedung A sebagai pusat koleksi dari jaman prasejarah hingga koleksi sejarah
Indonesia. Sedangkan gedung B dibuat dengan tema koleksi yang lebih modern.
Seperti iptek, organisasi sosial dan pola pemukiman, manusia dan lingkungan,
dll.
![]() | ||
Ruang Belanda - Portugis
|
Banyak
sekali koleksi yang bisa dilihat di gedung A, dan yang paling menarik perhatian
saya adalah koleksi arkeologi yang terletak di halaman dalam gedung A. Asli
kamu harus ke sini! Koleksi patung-patung Hindu-Budha ditata secara apik di
kanan dan kiri koridor. Dan yang nggak kalah menarik adalah koleksi arkeologi
yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk taman yang ciamik!
![]() | ||||
Halaman Dalam Museum Nasional Indonesia (Gedung A)
|
Selain itu, di gedung A juga terdapat beragam koleksi tekstil dari berbagai daerah, keramik dari dalam dan luar negeri, serta beragam etnografi Indonesia yang bisa dinikmati pengunjung.
![]() | ||
Koleksi Tekstil dari Kalimantan
|
![]() |
| Koleksi Gamelan Jawa Tengah |
Buat jelajah museum ini saya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Lama ya? Iya. Soalnya pas di dalam museum rasanya saya seperti tersihir oleh koleksi-koleksi yang dipajang. Rasanya sayang kalau melewatkan display-display yang ditata rapi dan cantik.
Nggak mau kan melewatkan museum yang satu ini?
Bagi yang berminat menjelajahi Museum Nasional Indonesia bisa datang dari hari Selasa sampai Minggu, dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore (weekdays) dan jam 8 pagi sampai jam 5 sore (weekend).
Museum Layang-layang Indonesia - A Journey to The Kites World
Pernah ditolak sama Museum
Layang-layang Indonesia (MLI) nggak menyurutkan niat saya untuk berkunjung
kembali. Minggu lalu saya berkunjung ke
sana tapi sayangnya MLI sedang dipakai untuk sebuah acara sehingga saya tidak
diperkenankan masuk untuk melihat-lihat. Sediiiih. Itu artinya saya harus
menunggu selama seminggu untuk kembali ke sana lagi. Yah mau gimana, bisa
jalan-jalannya cuma Sabtu – Minggu sih. Nggak apa-apa, toh akhir pekan ini
(Sabtu, 24 Oktober 2015) MLI dibuka untuk umum. And lucky me, kebeneran banget
pas lagi ada event Pekan Cinta Museum di MLI. Saya jadi bisa ikutan rangkaian
acaranya :D
Museum layang-layang Indonesia adalah
satu-satunya museum layang-layang di Indonesia, terletak di Jl. H. Kamang No.
38, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Nggak usah bingung nyarinya. Use
your waze or google map, trust me it works! Tinggal pake fitur navigate, set
posisi kamu sekarang dan posisi tujuan. Tinggal jalan deh. Memang lokasinya
agak masuk ke dalam gang gitu sih, tapi nggak susah dicari kok. Buat patokan
nih saya kasih foto rambu di gangnya sama foto bagian depan museumnya.
![]() |
| Tanda Tepat di Depan Jl. H. Kamang |
| Tanda di Depan Museum Layang-layang Indonesia |
Pertama masuk area parkir saya
sudah disambut dengan ornamen layang – layang yang dikaitkan di tali. Unik
banget!
Next, karena sedang ada acara
saya diminta untuk mengisi buku tamu kemudian diberi satu tas souvenir. Pas
masuk rada amaze juga soalnya banyak layang – layang dimana-mana. Layang –
layang di langit, di pohon, di atap rumah, bahkan sampai di jalan setapak pun
ada layang-layang. Whoaaaaa...
Pekan Cinta Museum
Untuk memperingati hari museum
yang jatuh pada tanggal 12 Oktober 2015 lalu, diadakan acara Pekan Cinta Museum
di MLI. Acaranya menyuguhkan beberapa penampilan seni tradisional, fashion show
dan juga kolaborasi beberapa museum di Jakarta. Ada beberapa stand yang dibuka
untuk umum, salah satu yang menarik perhatian saya adalah stand workshop
membatik milik Museum Tekstil. Di sana saya diberi kesempatan untuk mencoba
membatik di secarik kain yang sebelumnya sudah diberi pola. Pas ngeliat
tutorial yang diperagakan sih keliatannya gampang ya, tapi pas nyoba sendiri
ternyata.... susah! Hahaha. Pola batik saya yang indah menjadi terlihat ancur
oleh tetesan-tetesan lilin yang berantakan. Yang namanya mbatik ternyata memang
butuh kesabaran, ketekunan dan kehati-hatian. Kalo nggak, ya kayak yang saya
hasilin itu... ancur! hahaha.
| Sok serius gitu mbatiknya... |
![]() |
| Udah serius aja hasilnya kayak gini X_X |
Museum Layang – layang
Begitu selesai mbatik saya
langsung menuju ruang layang-layang. Awalnya bingung tempatnya dimana. Saya
hanya melihat sebuah rumah joglo yang memang di langit-langitnya dipasang
beberapa layang-layang. Tapi masa segitu doang sih? Saya penasaran, mau nanya
tapi saat itu nggak ada orang yang bisa ditanya (lagi pada sibuk sama acara).
Sampai akhirnya saya menemukan sebuah pintu... pintu menuju DUNIA
LAYANG-LAYANG. Yeah! Ini adalah pertama kalinya saya melihat layang-layang dari
berbagai daerah, dengan bermacam bentuk dan warna.
| Kiri - Kanan: Layang-layang Dandang Bini (Kalimantan Selatan) - Bag. atas Koangan (DKI Jakarta) - Bag. bawah Aduan (DKI Jakarta) - Pepetengan (Jawa Barat) |
| Layang-layang Daerah Sulawesi |
| Badholan dan Tanggalan (Tulungangung) |
Pas melihat layang-layang yang
satu ini saya jadi ingat jaman masih anak-anak dulu pernah dibikinin
layang-layang sama Bapak :’) Bentuknya kayak gini nih...
| Daplangan (Cilacap) |
Itu baru sebagian aja layang-layang yang saya ambil fotonya. Sebenernya masih banyak, bagus-bagus dan unik-unik! Mendingan langsung ke MLI aja kalau mau lihat koleksi lengkapnya ;)
Setelah puas melihat
layang-layang, saya keluar dari ruangan tersebut dan surprisingly lagi ada acara
workshop bikin layang-layang! Saya merasa beruntung banget hari ini. Tanpa
pikir panjang saya langsung bergabung dan mulai membuat layang-layang sendiri.
Semua peralatan sudah disediakan, mulai dari kerangka layang-layang, kertas,
lem, gunting, crayon, tali, sampai ekor si layang-layang pun udah ada.
Pengen tau layang-layang saya seperti apa?? Ini diaaa....
Seru banget bisa main di Museum
Layang-layang Indonesia. Saya bisa lihat layang-layang sekaligus nyobain bikin
layangan sendiri. Dan plusnya saya bisa ikutan acara pekan cinta museum
sekaligus dapet makan gratis dan bebeberapa souvenir! Yehey.
Buat kamu yang bingung nyari
tempat liburan, Museum Layang-layang Indonesia bisa jadi pilihan buat
dikunjungi. MLI buka setiap hari kecuali hari libur nasional. Buka dari jam 9
pagi sampai 4 sore. Ohya kalau mau ke sini pas akhir pekan mending konfirmasi
dulu dibuka untuk umum atau nggak sama pihak museum (021 7658075). Soalnya dua
kali ke sini setiap akhir pekan pasti selalu ada acara. Buat antisipasi aja
sih, sayang kan kalo udah jauh-jauh ke MLI tapi nggak bisa masuk (curhat).
Udah gitu dulu yaa. Sampai jumpa
di jalan-jalan berikutnya! ;)
Hal yang Wajib Kamu Lakuin Di Kawah Putih Ciwidey
Kawah Putih
Ciwidey. Siapa yang gak kenal nama obyek wisata tersebut? Pesonanya yang indah
membuat siapapun ingin datang mengunjunginya. Well, ini bukan untuk pertama
kalinya saya ke Kawah Putih, beberapa tahun yang lalu saya pernah main ke sini
juga dan fyi harga tiketnya sekarang udah naik lho. Dari 150K sekarang jadi
200K (Agustus 2015). Mihil? Kalo kamu ke sini sendirian dapet harga segitu ya
bikin tekor juga ya. Saya saranin kalo main ke sini bawa mobil family yang muat
delapan orang biar lebih hemat patungannya hehe.
Anyway, sekarang
saya gak akan nyeritain kisah perjalanan saya ke sana. Boring kali ya baca
perjalanan yang isinya nyemil, cekakakan ama molor di dalem mobil. So,
berhubung masuk ke Ciwidey ga bisa dibilang murah, ada baiknya kita
memanfaatkan waktu di sana dengan melakukan hal yang emang harus dilakuin.
Ada apaan sih di
Ciwidey? Sejauh mata memandang kamu akan melihat kawah dengan air berwarna biru
ke ijo-ijoan dan rada putih (susah kan bayanginnya?). Selain itu kamu juga
bakal ngeliat pasir warna putih di tepian kawah dengan tebing tinggi di sekelilingnya.
Walaupun di Ciwidey itu kadar belerangnya tinggi, tapi masih tetep ada
pepohonan yang menghiasi disekitarnya. Satu kata buat Ciwidey. INDAH!
Terus kalau udah
nyampe Ciwidey mau ngapain? Lari-lari? Mbagi masker gratis ke pengunjung?
(mulia sekali), atau mau renang di kawah sekalian nyembuhin kulit yang panuan?
Enggak kan?? Main ke Ciwidey itu nggak kayak main ke pegunungan. Kalo di pegunungan
kita bisa santai duduk-duduk gulang-guling sambil menghirup udara sejuk, kalo
di Ciwidey kamu mau ngelakuin hal kayak gitu tu impossible bro-sist! Secara
sebelum kamu masuk ke kawasan kawah putih Ciwidey aja bakal nyium bau belerang
yang nyengatnya bikin hidung iritasi. Dan lagi, di sana ada aturan maksimal 15
menit berada di area kawah putih biar gak keracunan. Saya ulangi, cuma LIMA
BELAS MENIT. Ya, 200K yang kamu keluarin itu cuma buat LIMA BELAS MENIT (bisa
extend kalo daya tahan tubuhmu gak protes). Jadi kamu harus memanfaatkan LIMA
BELAS MENIT tadi dengan (((maksimal))).
Back to topic. Dari
pengalaman dua kali ke sini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa hal yang
paling bisa dilakukan di kawah putih adalah menikmati pemandangan (beberapa
detik aja) sisanya FOTO-FOTO. Fix itu aja. Buat yang suka fotografi atau
videografi, tempat ini bakalan jadi spot yang menarik buat ngambil foto maupun
video. Makanya gak heran kalau obyek wisata alam yang terletak di Bandung ini
banyak dipilih buat lokasi hunting foto, foto prewed, shoting film, dll.
Sebagai turis,
kamu juga wajib ambil foto di sini. Dengan berbagai komposisi pengambilan
gambar pastinya. Sedikit saya kasih inspirasi untuk pengambilan foto yang
(mungkin) bisa kamu ikuti.
1. Foto landscape
Foto landscape wajib
kamu ambil sebagai bahan pamer sama temen-temen yang belum pernah ke kawah
putih Ciwidey. Trust me, siapapun liat foto landscape Ciwidey bakal bikin
mupeng!
2. Foto anti mainstream
Foto dengan pose
yang beda dari yang lainnya, misalnya foto levitation kayak di bawah ini.
3. Foto bareng sahabat atau orang tercinta
Ini juga perlu
dilakuin mengingat persahabatan maupun hubungan antar sesama adalah hal yang
indah, seindah kawah putih (apaan siiih).
4. Foto selfie atau self portrait
Bedanya selfie
sama self portrait itu terletak pada siapa yang ngefoto dan siapa yang megang
kamera pas ngefoto (imho). Kalo kamu moto diri sendiri sambil pegang kamera itu
bisa dibilang selfie, kalo kamu (sendirian) difotoin sama orang lain itu
berarti kamu lagi bikin self portrait. Clear? Anggep aja clear. Jadi selain
buat bukti kalo kamu pernah ke kawah putih, foto selfie atau self portrait juga
bisa digunain buat ganti profile picture akun sosmed kamu. Biar update dan
kekinian gitu :D
5. Foto group-fie
Biar
kebersamaanmu bersama teman-teman terdokumentasi dan selalu terkenang sepanjang
masa :”)
Semoga sedikit
cerita dan tips yang saya berikan bisa menginspirasi dan bermanfaat buat kalian
semua ya. Jangan lupa bawa masker pas ke kawah putih dan tinggalkan komentar di
blog saya atau klik tombol share biar saya semakin eksis di dunia perblogan.
See you in another story, fellas!
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Profile
Hidup berasa hambar tanpa jalan-jalan. Kamera adalah benda yang wajib dibawa kemana-mana. Kulineran itu hal yang susah banget buat ditolak. Welcome to my blog, fellas!
Popular Posts
-
Buat kalian yang sudah sukses melewati berbagai tahap ujian, dari TPA, psikotes, wawancara, tes kesehatan, dan segala macam bentuk seleksi ...
-
Akhir-akhir ini lagi suka dengerin musik karena koleksi lagu semakin banyak setelah berlangganan premium spotify. Berhubung saya dengerin m...
-
Baca juga: Tips mengikuti Samapta, klik di sini . “Derap langkah nan gagah perkasa. Seirama dan satu suara. Sambil bernyanyi lagu hura-h...
-
Ada yang belum pernah ke Museum Nasional Indonesia? Kamu yang di Jakarta harusnya udah bolak balik ke sini. Rugi berat kalau belum nyempet...
-
Selama kurang lebih satu bulan bertahan tanpa earphone, lama-lama risih juga nyetel musik lewat speaker HP atau laptop di kantor. Sampai ak...
Labels
Blog Archive
Friends
PreciousMosaic. Powered by Blogger.



































